Kamis, 04 November 2010

KEJUJURAN SANG IMAM

Kejujuran Sang Imam 

Siluet masjid 12Bissmillahirrohmaan irrohiim
Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka. Supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.
Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.
“Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai,”tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.
Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.
“Bolehkah aku melihat pakaian itu?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambilkannya.
“Berapa harganya?”tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.”Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.
“Sayang sekali.”perempuan itu tampak kecewa.
“Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?”
“Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja.”
“Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,”katanya.
“Tidak apa-apa, terima kasih,”sahut Imam Hanafi tetap tersenyum dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.
Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali. Imam Hanafi lalu menghampirinya.
“Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal.”
“Memang, saya pun sangat menyukainya. ” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih. “Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin,”katanya lagi.
Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini, saya akan menghadiahkannya untuk ibu,”kata Imam Hanafi.
“Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?”
“Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih.”Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.
“Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.” Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.
Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.
Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu.
“Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja,” kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk. Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.
Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.
“Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang,”kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.
“Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi.
“Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh.”sahabatnya sangat menyesal.
Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.
“Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya, “ucap Imam Hanafi.
Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.
Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.
“Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,”ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.
Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.
Keesokan harinya Imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya. Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu disudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.
Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh.
“Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya? ” tanyanya.
“Tidak, Aku khawatir uang itu adalah uang haram,” kata Imam Hanafi.
Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya.
***
Sumber kisah kisah teladan
y u R P hanya di bulan Ramadhan.
Alasannya, makin banyak rakaatnya, makin banyak pahalanya. Tetapi ingat yang namanya sholat taraweh itu sholat santai, jadi harus dikerjakan dengan khusuk dan tidak tergesa-gesa hanya untuk mengejar target 23 rakaat cepet selesai.
SHOLAT WITIR SEBELUM TIDUR
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Sahabatku (yaitu Rasulullah s.a.w.) berwasiat kepadaku tiga perkara: (a). Puasa tiga hari setiap bulan. (b).Shalat Dhuha 2 rakaat. (c). Shalat Witir sebelum tidur.” HSM.688, 689  (Selain bulan Ramadhan).
Dari ‘Ali Bin Abi Tholib. Ia berkata: “Bukanlah witir itu  kemestian sebagaimana sholat yang diwajibkan, tetapi ia satu sunnat yang disunnatkan oleh Rasulullah.s. a.w. HBM.394 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dihasankan dia oleh Nasa-y dan Hakim dan ia shahkan dia.
SHOLAT WITIR:  5 RAKAAT,  3 RAKAAT ATAU 1 RAKAAT (HANYA 1 SALAM):
Dari Jabir r.a., katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Siapa yang takut tidak terbangun di akhir malam, maka shalat witirlah di awalnya (sebelum tidur). Tetapi siapa yang penuh harapannya akan terbangun tengah malam, sebaiknyalah dia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam itu disaksikan para malaikat, dan itulah yang lebih baik”. HSM No. 728
Dari Abi ‘aiyub Al Anshari, bahwasanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Witir itu satu haq (satu tuntunan yang ringan) atas tiap-tiap muslim, barangsiapa suka 5 rakaat, suka 3 rakaat, suka 1 rakaat boleh ia buat. Diriwayatkan dia oleh “Empat” kecuali Tirmidzi dan disahkan oleh Ibnu Hiban. Hadis Shahih Bulughul Maram.No. 393
Dari Thalq bin ‘Ali. Ia berkata: Saya dengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada dua witir pada satu malam”. Diriwayatkan dia oleh Ahmad dan “Tiga” dan dishahkan dia oleh Ibnu Hibban. Hadis shahih Bulughul Maram.No.407
Sholat witir lima rakaat hanya satu kali duduk.
Dan daripadanya (‘Aisyah). Ia berkata: Adalah Rasulullah s.a.w. sholat, pada waktu malam tiga belas raka’at, dan ia witir dari padanya dengan lima raka’at; tidak ia duduk melainkan pada akhirnya. HBM.402; (4rk salam, 4rk salam dan witir 5rk satu tasyahut dan satu salam)
Sholat witir. Sekali berattahiyat dan lalu salam. Hadis Bulughul Maram.No. 408
Sholat witir, selain diatas  baca HBM.395, 396, 398,405, 406, 410, 412, 413, 414
Apabila sudah terbit fajar maka habislah waktu sholat malam dan sholat witir.BM.414
Belum ketemu dalilnya sholat witir tiga raka’at dikerjakan dua raka’at satu tasyahud dan satu salam, ditambah satu raka’at satu tasyahud dan satu salam
Dasar-dasar hukumnya No.V adalah:
Dari Jabir r.a. katanya dia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya tengah malam terdapat suatu sa’at, apabila seorang muslim memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat pada saat itu, niscaya Allah memperkenankannya. Begitu halnya setiap malam.” HSM.No.730
Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia, yaitu kira-kira sepertiga malam yang akhir. Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang memohon kepada-Ku, Aku perkenankan; dan siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri; dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni dia”. HSM. No.731
Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah turun ke langit dunia setiap malam, yaitu ketika telah lewat sepertiga malam pertama. Lalu Allah berfirman: “Akulah Tuhan! Akulah Tuhan! Siapa yang memohon kepada-Ku, Kuperkenankan permohonannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Kuberi dia. Dan siapa yang mohon ampun kepada-Ku, Kuampuni dia. Begitulah seterusnya hingga terbit fajar”. HSM.732
SHOLAT-SHOLAT  MALAM ROSULULLAH SAW.
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Qs.Al Isroo’ (17): 79
Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya) , (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.Qs. Al Muzzammil (73): 1 s/d 8
[73.20] Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Qs.73:20
Kesimpulannya
Bagi mereka yang mengamalkan sholat tarawih, sholat Tahajud, sholat Tathawwu dengan cara sholat 4rk satu tasyahut satu salam; 4rk satu tasyahud dan satu salam. Sholat witir 3rk satu tasyahut dan satu salam. Silahkan!
Karena dalil-dalilnya tersebut diatas sudah jelas dan nyata.
Bagi mereka yang mengamalkan sholat Tarawih 20 raka’at dengan cara tiap-tiap dua raka’at satu tasyahud dan satu salam. Ditambah 3 raka’at sholat witir yang dikerjakan dua raka’at satu tasyahud dan satu salam ditambah satu raka’at satu tasyahut dan satu salam.
Dalilnya Ijma’ dari kesepakatan para ulama Mahdzab Imam Syafi’i.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga anda dapat memilih yang baik sesuai hati nurani anda, sesuai keyaqinan anda, sesuai contoh Rasulullah s.a.w. atau sesuai Ijma dari kesepakatan para ulama Mahdzab Imam Syafi’i. Allahu a’lam mana yang paling baik dimata Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
[17.36] Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
[7.179] Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.  Mereka itulah orang-orang yang lalai.
Penyesalan setelah mati tiada gunanya.
[33.66] Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”.[33.67] Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).[33.68] Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”.
[35.37] Dan mereka berteriak di dalam neraka itu:”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang lalim seorang penolongpun.

KISAH DI BALIK SHOLAT 5 WAKTU

Kisah Dibalik Perintah Sholat Lima Waktu 

sajadahAli bin Abi Talib r.a berkata :
Sewaktu Rasullullah SAW duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansyar, maka dengan tiba – tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi, lalu berkata: Ya Muhammad, kami hendak tanya kepada kamu kalimat – kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa AS, yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrabin Lalu Rasullullah SAW, bersabda : Silahkan bertanya. Berkata orang Yahudi: Silahkan terangkan kepada kami tentang lima waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu, Sabda Rasullullah SAW: Sholat Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada TuhanNya, Sholat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam AS, memakan buah Khuldi, Sholat Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam A.S, maka setiap mukmin yang sholat Maghrib dengan ikhlas kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya, Sholat Isya itu ialah sholat yang dikerjakan oleh para Rasul – Rasul sebelumku, Sholat Subuh adalah sebelum terbit matahari, ini karena apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan disitu sujudnya tiap orang kafir.
Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah SAW, maka mereka berkata: Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad, katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan di dapati oleh orang yang sholat.
Rasullullah SAW bersabda: Jagalah waktu-waktu sholat terutama sholat yang pertengahan, Sholat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam, orang mukmin yang mengerjakan sholat pada ketika itu akan diharamkan keatasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.
Sabda Rasullullah SAW lagi: Manakala sholat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam AS. Memakan buah Khuldi, Orang mukmin yang mengerjakan sholat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.
Setelah itu Rasullullah SAW membaca ayat yang bermaksud : Jagalah waktu – waktu sholat terutama sekali sholat yang pertengahan, sholat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam A.S, diterima, Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan sholat Maghrib kemudian meminta sesuatu dari Allah maka Allah akan perkenankan.
Sabda Rasullullah S.A.W.: Sholat Isya (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan sholat Isya berjamaah , Allah S.W.T. haramkan dari terkena nyalanya api neraka dan diberinya cahaya untuk menyeberangi titian sirath.
Sabda Rasullullah S.A.W. seterusnya: Sholat Subuh pula, seorang mukmin yang mengerjakan sholat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberi oleh Allah S.W.T. dua kebebasan yaitu:
  1. Dibebaskan dari api neraka.
  2. Dibebaskan dari nifaq.
Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W. maka mereka berkata: Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (S.A.W). Kini katakan pula kepada kami semua kenapakah Allah S.W.T. mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu?
Sabda Rasullullah S.A.W. : Ketika Nabi Adam memakan buah pohon yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam A.S. selama 30 hari. Kemudian Allah S.W.T. mewajibkan ke atas keturunan Adam A.S. berlapar selama 30 hari. Sementara izin makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah S.W.T. kepada makhlukNya.
Kata orang Yahudi: Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami ganjaran pahala yang diperolehi dari puasa itu.
Sabda Rasullullah S.A.W.:  Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah S.W.T. dia akan diberi oleh Allah S.W.T. tujuh perkara:
  1. Akan dicairkan daging haram yg tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh dengan makanan yang haram) .
  2. Rahmat Allah senantiasa dekat dengannya.
  3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.
  4. Dijauhkan dari merasa lapar dan haus.
  5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang sangat mengerikan).
  6. Diberikan cahaya oleh Allah S.W.T. pada hari Kiamat untuk menyeberang titian sirath.
  7. Allah S.W.T. akan memberinya kemudian di syurga.
Kata orang Yahudi : Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu antara semua para nabi-nabi
Sabda Rasullullah S.A.W.: Seorang nabi mengunakan doa mustajabnya untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya (untuk saya gunakan memberi syafaat pada umat saya di hari kiamat).
Kata orang Yahudi : Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad, kini kami mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa asyhadu anna Muhammada Rasulullah (kami percaya bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan engkau utusan Allah). Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta , jiwa dan buah2an. Dan berilah berita gembira kepada orang2 yang sabar. (Al-Baqarah [2] : 155)
Disebutkan di dalam satu riwayat, bahawasanya apabila para makhluk dibangkitkan dari kubur, mereka semuanya berdiri tegak di kubur masing masing selama 44 tahun UMUR AKHIRAT dalam keadaan TIDAK MAKAN dan TIDAK MINUM, TIDAK DUDUK dan TIDAK BERBICARA.
Bertanya orang kepada Rasulullah S.A.W. : Bagaimana kita dapat mengenali ORANG –ORANG MUKMIN kelak di hari qiamat? Maka jawabnya Rasulullah S.A.W, Umat dikenal karena WAJAH mereka putih disebabkan oleh WUDHU.
Bila qiamat datang maka malaikat datang ke kubur orang mukmin sambil membersihkan debu di badan mereka KECUALI pada tempat sujud. Bekas SUJUD tidak dihilangkan. Maka memanggillah dari zat yang memanggil.
Bukanlah debu itu dari debu kubur mereka, akan tetapi debu itu ialah debu KEIMANAN mereka. Oleh itu tinggallah debu itu sehingga mereka melalui titian Siratul Mustaqim dan memasuki alam syurga, sehingga setiap orang melihat para mukmin itu mengetahui bahwa mereka adalah pelayan Ku dan hamba-hambaKu.
Disebutkan oleh hadith Rasulullah saw bahwa sepuluh orang yang mayatnya TIDAK BUSUK dan TIDAK KRIPUT dan akan bangkit dalam tubuh asal diwaktu mati:
  1. Para Nabi
  2. Para Ahli Jihad
  3. Para Alim Ulama
  4. Para Syuhada
  5. Para Penghafal Al Quran
  6. Imam atau Pemimpin yang Adil
  7. Tukang Azan
  8. Wanita yang mati kelahiran/ beranak
  9. Orang mati dibunuh atau dianiaya
  10. Orang yang mati di siang hari atau di malam Jumat jika mereka itu dari kalangan orang yang beriman.
Di dalam satu riwayat yang lain dari Jabir bin Abdullah r.a sabda Rasulullah S.A.W.: Apabila datang hari qiamat dan orang orang yang berada di dalam kubur dibangkitkan maka Allah SWT memberi wahyu kepada Malaikat Ridhwan :
Wahai Ridhwan, sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba Ku berpuasa (ahli puasa) dari kubur mereka di dalam keadaan letih dan dahaga. Maka ambillah dan berikan mereka segala makanan yang digoreng dan buah buahan syurga.
Maka Malaikat Ridhwan menyeru, wahai sekalian kawan-kawan dan semua anak-anak yang belum baligh, lalu mereka semua datang dengan membawa dulang dari nur dan berhimpun dekat Malaikat Ridhwan bersama dulang yang penuh dengan buahan dan minuman yang lezat dari syurga dengan sangat banyak melebihi daun-daun kayu di bumi.
Jika Malaikat Ridhwan berjumpa mukmin maka dia memberi makanan itu kepada mereka sambil mengucap sebagaimana yang difirman oleh Allah SWT di dalam Surah Al-Haqqah bermaksud : Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan AMAL yang telah kamu kerjakan pada HARI yang telah lalu itu.
Tolong sebarkan kisah ini kepada saudara Islam yang lain. Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya meskipun dia sudah mati. Dan (ingatlah) Allah senantiasa mengetahui dengan mendalam akan apa jua yang kamu lakukan, Surah Al-Baqarah [2] : 110 yang artinya “Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan”.
***

CARA IBLIS MENGGODA

Cara Iblis Menggoda
Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari  diriku?
Akulah mahluk pertama yang berdusta.
Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa  bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau  Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah  bahwa aku benar – benar menasihatinya.
Sumpah dusta adalah  kegemaranku.
Ghibah (gossip) dan Namimah (Adu domba)  kesenanganku.
Kesaksian palsu kegembiraanku.
Orang yang bersumpah untuk  menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan  walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata – kata  cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu  hingga hari kiamat. jadi semua anak – anak zina dan ia masuk neraka  hanya karena satu kalimat, CERAI.
Wahai Muhammad, umatmu  ada yang suka mengulur  ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya  waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia  melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya  kemukanya.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat.  Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, iapun  menoleh pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya  serta aku katakan ‘shalatmu tidak sah’
Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam  shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia  untuk bergegas, ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.
Jika ia  berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan  tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya  sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan  wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil  mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika  ia tidak menutup mulutnya  ketika menguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya  menjadi bertambah serakah dan gila dunia.
Dan ia pun semakin taat padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku  memerintahkan orang miskin  agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, ‘kamu tidak wajib shalat, shalat hanya  wajib untuk orang yang  berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau  shalat.’
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil  meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan  menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira  dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari  islam?”
**
10 Hal  Permintaan Iblis kepada Allah SWT
“Berapa hal  yang kau pinta dari  Tuhanmu?”
“10  macam”
“Apa  saja?”
“Aku  minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia,  Allah mengizinkan. Allah berfirman,
“Berbagilah dengan manusia dalam  harta dan anak. Dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali  tipuan.” (QS Al-Isra :64)
Harta yang  tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang  bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama  Allah.
Aku minta  agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan  istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan  anak yang dilahirkan akan  sangat patuh kepada syaithan.
Aku minta agar bisa ikut bersama  dengan orang yang menaiki  kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.
Aku minta agar Allah menjadikan kamar  mandi sebagai rumahku.
Aku minta agar Allah menjadikan pasar  sebagai masjidku.
Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai  Quranku.
Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman  tidurku.
Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia  jadikan orang yang  membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
Allah  berfirman, “Orang  -orang boros adalah  saudara – saudara syaithan. “ (QS Al-Isra : 27).
Wahai Muhammad,  aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara  mereka tidak bisa  melihatku.
Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk  mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, “silahkan”,  dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat.
Sebagian besar manusia  bersamaku di hari kiamat.
Iblis berkata : “wahai muhammad,  aku tak bisa menyesatkan  orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan  menggoda.”
Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun…!!!
Sebagaimana  dirimu, kamu tidak bisa  memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan  amanah.
Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir  pun di muka bumi ini.
Kau hanya bisa menjadi penyebab  untuk orang yang telah  ditentukan sengsara.
Orang  yang bahagia adalah orang  yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.
Rasulullah SAW lalu  membaca ayat :
“Mereka akan terus  berselisih kecuali orang  yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 -  119)  juga membaca,
“Sesungguhnya  ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab :  38)
Iblis lalu  berkata:
“Wahai Muhammad Rasulullah, takdir  telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para  nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin  mahluk  mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka aku si  celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku  sampaikan kepadamu dan aku tak  berbohong.”
Sampaikan lah risalah ini kepada saudara2 kita agar mereka mengerti dengan benar, apakah tugas2 dari Iblis/Syaithan tsb,sehingga kita semua dapat mengetahui dan dapat mencegahnya dan tidak menuruti bisikan dan godaan Iblis/Syaithan. Mudah2an dengan demikian kita dapat setidak2nya membuat hidup ini lebih nyaman dan membuat tempat serta limgkungan kita lebih aman.

BASMALAH

Berkat Membaca Bismillah 

basmallah 2
Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mau mengerjakan kewajiban agama dan tidak mau berbuat kebaikan. Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak berbicara dan memulai sesuatu pekerjaan sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya tersebut dan selalu mengolok-olok isterinya. Suaminya berkata sambil mengejek, “Bismillah, Bismillah. Sebentar- sebentar Bismillah.”
Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : “Suatu saat nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu.
“Untuk membuat sesuatu yang mengejutkan isterinya, dia memberikan uang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, “Simpan uang ini.” Isterinya mengambil uang itu dan menyimpan di tempat kotak uang yang aman, suaminya mengetahui tempat penyimpanan uang tersebut.  Diam-diam suaminya mencuri uang tersebut dan membuang kotak uang ke sungai belakang rumahnya.
Setelah beberapa hari suaminya memanggil isterinya dan berkata, “Berikan kepadaku uang yang aku berikan kepada engkau.”Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan uang itu dan diikuti oleh suaminya. Istrinya dengan berhati-hati mengambil uang ditempat penyimpanan dan membuka dengan mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahiim.” Ketika itu Allah S.W.T. menyuruh malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan kotak uang tersebut ke tempat asalnya.
Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulai  sesuatu pekerjaan.

MUFLIS

Muflis 

water-lilies-2Suatu ketika Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapakah muflis itu?”
Para sahabat menjawab, “Yaitu orang-orang yang tidak memiliki satu dinar pun dan tidak pula satu dirham pun alias bangkrut.”
Rasulullah berkata, “Bukan itu yang dimaksud sebagai muflis. Orang muflis adalah orang yang ketika hidup di dunia dia banyak melakukan kebaikan, dia shalat, zakat, dan juga berhaji. Namun pada saat yang sama ia sering berbuat dzalim terhadap orang lain. Sehingga, ketika di akhirat kelak segala amal kebaikannya habis untuk melunasi tuntutan orang-orang yang dianiayanya. Dan ketika tuntutan itu belum selesai, saking banyaknya orang yang didzalimi sedangkan amal kebaikannya telah habis, maka kesalahan-kesalahan orang-orang itu akan ditimpakan kepadanya. Itulah orang muflis yang akhirnya menderita di akhirat karena amalnya ketika di dunia sia-sia belaka.”
Setiap manusia berpotensi untuk melakukan kedzaliman terhadap sesamanya. Dan, apabila ia memegang suatu kekuasaan memimpin maka potensi berbuat dzalim terhadap sesama semakin besar. Dan semakin tinggi wilayah kuasa seseorang maka potensi berbuat dzalim itu pun semakin besar pula.
Kekhawatiran inilah yang ditangkap oleh Khalifah Umar ibn Khattab ketika menerima amanah memimpin kaum Muslimin. Hari-harinya dilalui dengan amat berat karena memikul tanggung jawab atas urusan seluruh umat yang apabila ia lalai maka ia telah berbuat dzalim terhadap seluruh kaum Muslimin.
Rasa khawatir itu pula yang menjadikan air mata Khalifah Umar ibn Abdul Aziz sering tertumpah tatkala diberi amanah memimpin umat. Hari-hari yang dijalani adalah hari-hari yang terasa berat menanggung urusan umat. Mereka adalah termasuk orang-orang yang khawatir terjerumus ke dalam golongan orang-orang muflis yang merugi di akhirat karena berbuat dzalim terhadap sesama.
Lalu bagaimana pemimpin yang ada sekarang? Yang jelas jutaan orang atau lebih orang merasa disakiti. Kelak mereka di akhirat akan seperti orang yang digambarkan oleh Rasulullah yaitu orang yang defisit amal, bangkrut amal kebaikannya. Itulah orang-orang muflis.
Naudzubillahi min dzalik.

MENINGGALKAN YANG HARAM

Meninggalkan Yang Haram 

water_lily02 yellow_Dalam sebuah hadis, diriwayatkan tentang seorang penjahat yang ingin bertaubat. Ia masuk ke masjid. Ketika itu Rasulullah S.A.W sedang mengimamkan solat. Setelah menunaikan solat mereka berbincang-bincang dan penjahat yang ingin bertaubat itu mendengar Rasulullah S.A.W berkata, “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu yang haram maka akan memperolehnya ketika sudah halal.”
Setelah Rasulullah S.A.W dan para sahabat meninggalkan masjid, pemuda itu turut meninggalkan masjid. Hatinya masih ragu untuk mengutarakan taubatnya. Namun ucapan Nabi tadi amat terkesan di hatinya.
Malam pun menjelang. Suasana yang sering menggoda dirinya untuk melakukan keburukan. Tiba-tiba dia berhasrat untuk merompak salah sebuah rumah yang dihuni oleh seorang janda. Ternyata di rumah janda itu terdapat banyak makanan yang enak dan pasti mengundang selera.
Ketika dia sedang memulai santapannya tiba-tiba dia teringat kata-kata Rasulullah S.A.W siang tadi. Akhirnya dia tak jadi makan. Tatkala beranjak dari bilik ke bilik lain, dia menjumpai perhiasan dan uang yang banyak. Dan ketika dia hendak mengambilnya, sekali lagi dia teringat kata-kata Rasulullah S.A.W. Lalu dia membatalkan niat jahatnya.
Setelah itu dia masuk pula ke sebuah bilik yang besar. Didapatinya janda mu’minah itu sedang terbaring tidur dengan lelap. Tampak olehnya wajah janda yang cantik dan rupawan itu, dia tergoda dan bermaksud untuk melampiaskan nafsunya. Namun tiba-tiba dia teringat kembali kata- kata Rasulullah S.A.W tadi.. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu yang haram ia akan memperolehi barang tersebut ketika ia sudah halal.
Akhirnya, sekali lagi dia membatalkan niat jahatnya. Lalu dia pergi meninggalkan rumah itu dengan hati yang lega karena mampu mengalahkan nafsunya.
Fajar mulai menyingsing. Sang Penjahat tadi pergi menunaikan solat subuh di masjid. Kali ini dia bertekad, dia akan bertaubat di hadapan Rasulullah S.A.W.
Setelah solat, beliau duduk menyendiri di salah satu sudut masjid, merenung kembali peristiwa yang baru dialaminya malam tadi. Dan menghitung betapa besar dosanya andai perbuatan itu dilakukan.
Ketika matahari terbit datanglah seorang wanita ke masjid dan menceritakan kepada Rasulullah S.A.W kejadian semalam di rumahnya.
Walaupun tiada barang yang hilang namun wanita itu khawatir pencuri itu akan datang lagi malam nanti. Wanita itu juga memohon kepada Rasulullah S.A.W agar bersedia mencarikan seorang yang sanggup menjaga rumahnya.
“Kenapa kau hidup sendirian?” Tanya Rasulullah S.A.W padanya. Wanita itu menjawab bahwa suaminya telah meninggal dunia.
Rasulullah S.A.W mengarahkan pandangannya kepada seorang yang sedang duduk menyendiri di salah satu sudut masjid. Rasulullah S.A.W bertanya pada lelaki tersebut (penjahat tadi), adakah beliau sudah beristeri?
Setelah Rasulullah S.A.W mengetahui bahwa lelaki itu ditinggal mati isterinya, maka baginda menawarkannya seorang calon isteri.
Lelaki itu terdiam begitu juga janda yang mengadu tadi. Mereka sama-sama malu. Tetapi Rasulullah S.A.W yang arif kemudian mengikat kedua insan itu menjadi suami isteri yang sah. Dan.. pecahlah tangis lelaki itu, lalu diceritakannya kepada Rasulullah S.A.W peristiwa yang sebenarnya, dan bahwa pencuri itu tidak lain adalah dirinya sendiri.
Wanita itu keluar dari masjid dari masjid diiringi lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Mereka berjalan beriringan menuju rumah yang malam tadi hampir hendak dijadikan sasaran pencurian olehnya.
Disana makanan-makanan yang enak masih utuh seperti yang dilihatnya malam tadi. Bedanyasekarang, makanan itu sudah tidak haram lagi. Maka tanpa ragu-ragu makanan itu disantapnya. Uang, emas dan perhiasan yang hendak dicuri, kini sudah menjadi miliknya yang halal.
Bahkan dia boleh menggunakannya untuk berdagang, tanpa haram sedikitpun.
Sementara wanita cantik yang hampir dinodainya semalam, kini benar- benar sudah menjadi isterinya. berkat kemampuannya menahan nafsu syaitannya.
Lelaki itu berbisik sendiri dalam hati, “Benarlah sabda Rasulullah S.A.W, barangsiapa meninggalkan yang haram maka ia akan memperolehinya ketika ia sudah menjadi halal.”
Demikian indah Islam mengajar arti cinta. Cinta yang tidak diliputi keraguan, cinta yang menimbulkan rasa tenteram, cinta yang menumbuhkan kedamaian, cinta yang menyuburkan keimanan dan ketaqwaan.
Cinta yang apabila kita meneguknya akan diperolehi kenikmatan yang lebih dalam lagi.
Marilah kita bertafakur dan menyemai hati kita. Masihkah ada cinta di sana? Sudahkah kita mengemas cinta kita dengan kemasan Cinta Rabbani dan memberi label halal di atasnya? Dan sudahkah kita menyingkirkan cinta syahwat yang akan menjerumuskan kita dalam petaka yang berpanjangan?
***

ALI BIN ABI TALIB

Ali Bin Abi Talib 

water_lily_sc146Khalifah keempat (terakhir) dari al-Khulafa’ ar-Rasyidun (empat khalifah besar); orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak; sepupu Nabi SAW yang kemudian menjadi menantunya. Ayahnya, Abu Talib bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abd Manaf, adalah kakak kandung ayah Nabi SAW, Abdullah bin Abdul Muttalib.
Ibunya bernama Fatimah binti As’ad bin Hasyim bin Abd Manaf. Sewaktu lahir ia diberi nama Haidarah oleh ibunya. Nama itu kemudian diganti ayahnya dengan Ali. Ketika berusia 6 tahun, ia diambil sebagai anak asuh oleh Nabi SAW, sebagaimana Nabi SAW pernah diasuh oleh ayahnya. Pada waktu Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, Ali baru menginjak usia 8 tahun. Ia adalah orang kedua yang menerima dakwah Islam, setelah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi SAW.
Sejak itu ia selalu bersama Rasulullah SAW, taat kepadanya, dan banyak menyaksikan Rasulullah SAW menerima wahyu. Sebagai anak asuh Rasulullah SAW, ia banyak menimba ilmu mengenai rahasia ketuhanan maupun segala persoalan keagamaan secara teoretis dan praktis.
Sewaktu Nabi SAW hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar as-Siddiq, Ali diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah Rasulullah SAW dan tidur di tempat tidurnya. Ini dimaksudkan untuk memperdaya kaum Kuraisy, supaya mereka menyangka bahwa Nabi SAW masih berada di rumahnya. Ketika itu kaum Kuraisy merencanakan untuk membunuh Nabi SAW. Ali juga ditugaskan untuk mengembalikan sejumlah barang titipan kepada pemilik masing-masing. Ali mampu melaksanakan tugas yang penuh resiko itu dengan sebaik-baiknya tanpa sedikit pun merasa takut. Dengan cara itu Rasulullah SAW dan Abu Bakar selamat meninggalkan kota Mekah tanpa diketahui oleh kaum Kuraisy.
Setelah mendengar Rasulullah SAW dan Abu Bakar telah sampai ke Madinah, Ali pun menyusul ke sana. Di Madinah, ia dikawinkan dengan Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah SAW, yang ketika itu (2 H) berusia 15 tahun. Ali menikah dengan 9 wanita dan mempunyai 19 orang putra-putri. Fatimah adalah istri pertama. Dari Fatimah, Ali mendapat dua putra dan dua putri, yaitu Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kulsum yang kemudian diperistri oleh Umar bin Khattab. Setelah Fatimah wafat, Ali menikah lagi berturut-turut dengan:
Ummu Bamin binti Huzam dari Bani Amir bin Kilab, yang melahirkan empat putra, yaitu Abbas, Ja’far, Abdullah, dan Usman.
Laila binti Mas’ud at-Tamimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu Abdullah dan Abu Bakar.
Asma binti Umair al-Kuimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu Yahya dan Muhammad.
As-Sahba binti Rabi’ah dari Bani Jasym bin Bakar, seorang janda dari Bani Taglab, yang melahirkan dua anak, Umar dan Ruqayyah;
Umamah binti Abi Ass bin ar-Rabb, putri Zaenab binti Rasulullah SAW, yang melahirkan satu anak, yaitu Muhammad.
Khanlah binti Ja’far al-Hanafiah, yang melahirkan seorang putra, yaitu Muhammad (al-Hanafiah).
Ummu Sa’id binti Urwah bin Mas’ud, yang melahirkan dua anak, yaitu Ummu al-Husain dan Ramlah. Mahyah binti Imri’ al-Qais al-Kalbiah, yang melahirkan seorang anak bernama Jariah.
Ali dikenal sangat sederhana dan zahid dalam kehidupan sehari-hari. Tidak tampak perbedaan dalam kehidupan rumah tangganya antara sebelum dan sesudah diangkat sebagai khalifah. Kehidupan sederhana itu bukan hanya diterapkan kepada dirinya, melainkanj uga kepada putra-putrinya.
Ali terkenal sebagai panglima perang yang gagah perkasa. Keberaniannya menggetarkan hati lawan-lawannya. Ia mempunyai sebilah pedang (warisan dari Nabi SAW) bernama “Zul Faqar”. Ia turut-serta pada hampir semua peperangan yang terjadi di masa Nabi SAW dan selalu menjadi andalan pada barisan terdepan.
Ia juga dikenal cerdas dan menguasai banyak masalah keagamaan secara mendalam, sebagaimana tergambar dari sabda Nabi SAW, “Aku kota ilmu pengetahuan sedang Ali pintu gerbangnya.” Karena itu, nasihat dan fatwanya selalu didengar para khalifah sebelumnya. Ia selalu ditempatkan pada jabatan kadi atau mufti.
Ketika Rasulullah SAW wafat, Ali menunggui jenazahnya dan mengurus pemakamannya, sementara sahabat-sahabat lainnya sibuk memikirkan soal pengganti Nabi SAW. Setelah Abu Bakar terpilih menjadi khalifah pengganti Nabi SAW dalam mengurus negara dan umat Islam, Ali tidak segera membaiatnya. Ia baru membaiatnya beberapa bulan kemudian.
Pada akhir masa pemerintahan Umar bin Khattab, Ali termasuk salah seorang yang ditunjuk menjadi anggota Majlis asy-Syura, suatu forum yang membicarakan soal penggantian khalifah. Forum ini beranggotakan enam orang. Kelima orang lainnya adalah Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Abdur Rahman bin Auf. Hasil musyawarah menentukan Usman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab.
Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Ali banyak mengeritik kebijaksanaannya yang dinilai terlalu memperhatikan kepentingan keluarganya (nepotisme). Ali menasihatinya agar bersikap tegas terhadap kaum kerabatnya yang melakukan penyelewengan dengan mengatasnamakan dirinya. Namun, semua nasihat itu tidak diindahkannya. Akibatnya, terjadilah suatu peristiwa berdarah yang berakhir dengan terbunuhnya Usman.
Kritik Ali terhadap Usman antara lain menyangkut Ubaidillah bin Umar, yang menurut Ali harus dihukum hadd (beberapa jenis hukuman dalam fikih) sehubungan dengan pembunuhan yang dilakukannya terhadap Hurmuzan. Usman juga dinilai keliru ketika ia tidak melaksanakan hukuman cambuk terhadap Walib bin Uqbah yang kedapatan mabuk. Cara Usman memberi hukuman kepada Abu Zarrah juga tidak disetujui Ali.
Usman meminta bantuan kepada Ali ketika ia sudah dalam keadaan terdesak akibat protes dan huru-hara yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak setuju kepadanya. Sebenarnya, ketika rumah Usman dikepung oleh kaum pemberontak, Ali memerintahkan kedua putranya, Hasan dan Husein, untuk membela Usman. Akan tetapi karena pemberontak berjumlah besar dan sudah kalap, Usman tidak dapat diselamatkan.
Segera setelah terbunuhnya Usman, kaum muslimin meminta kesediaan Ali untuk dibaiat menjadi khalifah. Mereka beranggapan bahwa kecuali Ali, tidak ada lagi orang yang patut menduduki kursi khalifah setelah Usman. Mendengar permintaan rakyat banyak itu, Ali berkata, “Urusan ini bukan urusan kalian. Ini adalah perkara yang teramat penting, urusan tokoh-tokoh Ahl asy-Syura bersama para pejuang Perang Badr.”
Dalam suasana yang masih kacau, akhirnya Ali dibaiat. Pembaiatan dimulai oleh sahabat-sahabat besar, yaitu Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan para sahabat lainnya. Mereka diikuti oleh rakyat banyak. Pembaiatan dilakukan pada tanggal 25 Zulhijah 33 di Masjid Madinah seperti pembaiatan para khalifah pendahulunya. Segera setelah dibaiat, Ali mengambil langkah-langkah politik, yaitu:
Memecat para pejabat yang diangkat Usman, termasuk di dalamnya beberapa gubernur, dan menunjuk penggantinya.
Mengambil tanah yang telah dibagikan Usman kepada keluarga dan kaum kerabatnya tanpa alasan kedudukan sebagai khalifah sampai terbunuh pada tahun 661.
Pemberontakan ketiga datang dari Aliran Khawarij, yang semula merupakan bagian dari pasukan Ali dalam menumpas pemberontakan Mu’awiyah, tetapi kemudian keluar dari barisan Ali karena tidak setuju atas sikap Ali yang menerima tawaran berdamai dari pihak Mu’awiyah. Karena mereka keluar dari barisan Ali, mereka disebut “Khawarij” (orang-orang yang keluar). Jumlah mereka ribuan orang. Dalam keyakinan mereka, Ali adalah amirulmukminin dan mereka yang setuju untuk bertahkim telah melanggar ajaran agama. Menurut mereka, hanya Tuhan yang berhak menentukan hukum, bukan manusia. Oleh sebab itu, semboyan mereka adalah Id hukma ilia bi Allah (tidak ada hukum kecuali bagi Allah). Ali dan sebagian pasukannya dinilai telah berani membuat keputusan hukum, yaitu berunding dengan lawan.
Kelompok Khawarij menyingkir ke Harurah, sebuah desa dekat Kufah. Mereka mengangkat pemimpin sendiri, yaitu Syibis bin Rub’it at-Tamimi sebagai panglima angkatan perang dan Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi sebagai pemimpin keagamaan. Di Harurah mereka segera menyusun kekuatan untuk menggempur Ali dan orang-orang yang menyetujui tahkim, termasuk di dalamnya Mu’awiyah, Amr bin As, dan Abu Musa al-Asy’ari. Kegagalan Ali dalam tahkim menambah semangat mereka untuk mewujudkan maksud mereka.
Posisi Ali menjadi serba sulit. Di satu pihak, ia ingin menghancurkan Mu’awiyah yang semakin kuat di Syam; di pihak lain, kekuatan Khawarij akan menjadi sangat berbahaya jika tidak segera ditumpas. Akhirnya Ali mengambil keputusan untuk menumpas kekuatan Khawarij terlebih dahulu, baru kemudian menyerang Syam. Tetapi tercurahnya perhatian Ali untuk menghancurkan kelompok Khawarij dimanfaatkan Mu’awiyah untuk merebut Mesir.
Pertempuran sengit antara pasukan Ali dan pasukan Khawarij terjadi di Nahrawan (di sebelah timur Baghdad) pada tahun 658, dan berakhir dengan kemenangan di pihak Ali. Kelompok Khawarij berhasil dihancurkan, hanya sebagian kecil yang dapat meloloskan diri. Pemimpin mereka, Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi, ikut terbunuh.
Sejak itu, kaum Khawarij menjadi lebih radikal. Kekalahan di Nahrawan menumbuhkan dendam di hati mereka. Secara diam-diam kaum Khawarij merencanakan untuk membunuh tiga orang yang dianggap sebagai biang keladi perpecahan umat, yaitu Ali, Mu’awiyah, dan Amr bin As. Pembunuhnya ditetapkan tiga orang, yaitu: Abdur Rahman bin Muljam ditugaskan membunuh Ali di Kufah, Barak bin Abdillah at-Tamimi ditugaskan membunuh Mu’awiyah di Syam, dan Amr bin Bakar at-Tamimi ditugaskan membunuh Amr bin As di Mesir. Hanya Ibnu Muljam yang berhasil menunaikan tugasnya. Ia menusuk Ali dengan pedangnya ketika Ali akan salat subuh di Masjid Kufah. Ali mengembuskan napas terakhir setelah memegang tampuk pimpinan sebagai khalifah selama lebih-kurang 4 tahun.
***